Prof. (HC) Dr. Ir. Dwi Soetjipto, M.M.

Terbit pada

Jumat, 25 September 2026

Oleh
afira
178

Dari Anak Surabaya yang Pernah Kesulitan Biaya Kuliah, Dwi Soetjipto Memimpin Semen Indonesia, Pertamina, hingga SKK Migas

Prof. (HC) Dr. Ir. Dwi Soetjipto, M.M. adalah lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) angkatan 1970-an. Ia pernah memimpin tiga institusi besar negara: PT Semen Indonesia, PT Pertamina (Persero), dan SKK Migas.

Dwi lahir di Surabaya pada 10 November 1955, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Keluarganya hidup pas-pasan. Sejak SD ia sudah ikut membantu ekonomi keluarga lewat pekerjaan kecil. Saat kuliah di ITS, ia sempat kesulitan membayar biaya pendidikan sampai akhirnya mendapat beasiswa karena nilainya bagus.

Kesibukannya di kampus tidak berhenti di ruang kelas. Ia aktif di organisasi mahasiswa, berlatih silat Perisai Diri sampai berprestasi di tingkat nasional, dan terpilih sebagai Mahasiswa Teladan Nasional pada 1979. Setahun kemudian ia lulus dengan gelar Insinyur. Pendidikannya berlanjut ke Magister Manajemen di Universitas Andalas, Padang, lalu program doktor Ilmu Manajemen Strategik di Universitas Indonesia.

Karier Dwi dimulai di Pertamina lewat jalur teknis. Ia lama berada di posisi fungsional sebelum pindah ke jalur manajerial. Pada 2003 ia ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Semen Padang, dengan tugas memulihkan kinerja perusahaan dan meredam konflik internal. Setelah itu ia memimpin PT Semen Gresik, kemudian PT Semen Indonesia sebagai holding semen nasional.

Tahun 2014 ia kembali ke Pertamina, kali ini sebagai Direktur Utama. Penunjukannya saat itu dinilai sebagai pilihan profesional karena ia berasal dari dalam korporasi, bukan dari lingkaran politik. Sampai 2017, ia banyak membenahi tata kelola, transparansi, dan sistem internal perusahaan.

Pada Desember 2018 Dwi dilantik sebagai Kepala SKK Migas dan dipercaya lagi untuk periode kedua pada 2022. Ia memimpin lembaga itu hingga November 2024, dengan fokus pada iklim investasi hulu migas, produksi nasional, dan hubungan negara dengan kontraktor migas.

Soal kepemimpinan, Dwi punya pandangan sederhana. Dalam kuliah di Universitas Airlangga pada April 2025, ia menyebut pemimpin adalah orang yang bisa membawa perubahan, bukan sekadar orang yang duduk di kursi paling atas. Salah satu contoh yang sering ia ceritakan adalah kebiasaan mengajak timnya senam pagi dan membersihkan halaman bersama saat membenahi budaya kerja di Pertamina.

Di sektor energi, ia menilai produksi nasional tidak akan tercapai tanpa investasi hulu migas yang terus berjalan. Ia juga melihat gas bumi sebagai energi penghubung antara sektor energi dan industri. “Gas adalah penghubung strategis antara energi dan industri,” ujarnya.

Hubungan Dwi dengan almamaternya masih berjalan. Saat ini ia menjabat Wakil Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS periode 2021–2026. Ia juga dua kali menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni (IKA) ITS, yaitu periode 2007–2011 dan 2015–2019, dan sampai sekarang menjadi satu-satunya yang pernah menjabat dua periode. Di masa kepemimpinannya, IKA ITS ikut mendorong masuknya mata kuliah Technopreneurship ke kurikulum resmi ITS. IKA ITS juga pernah memberinya penghargaan Alumnus Terbaik.

Ia masih rutin datang ke kampus untuk kuliah tamu dan forum akademik. Pesannya untuk mahasiswa cukup lugas: pahami kondisi industri, kuasai standar teknis, dan biasakan menganalisis dengan perangkat lunak modern supaya apa yang dipelajari di kampus benar-benar terpakai di dunia kerja.

×