Lebda Prakoswo, S.T., CCME (IACCM)

Terbit pada

Jumat, 25 September 2026

Oleh
afira
184

Dari Minyak Kelapa ke Qatar, Lebda Prakoswo Ajak Alumni ITS Berani Berkarier di Luar Negeri

Lebda Prakoswo lulus dari Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 2005. Setelah lulus, ia tidak langsung melamar ke perusahaan. Bersama beberapa rekannya, ia memproduksi virgin coconut oil. Usaha itu berjalan sekitar satu tahun sebelum ia memilih jalur profesional. Alumni kelahiran Surabaya, 8 Maret 1982, ini sekarang menjabat Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni (IKA) ITS Pengurus Wilayah Luar Negeri.

Pada 2006 ia bergabung dengan Sucofindo sebagai inspektor yang memverifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk ekspor. Setelah itu ia pindah ke PT Inti Karya Persada Teknik (IKPT), perusahaan jasa EPC, dan menangani rantai pasok untuk sejumlah proyek besar.

Tahun 2010 ia berangkat ke Abu Dhabi dan bekerja sebagai ekspatriat di proyek migas milik ADNOC. Ia mengaku sempat kaget karena lamarannya diterima. “Saya beruntung diterima, karena baru punya pengalaman selama tiga tahun, belum genap dua tahun di supply chain,” katanya.

Dari Abu Dhabi, Lebda pindah ke Prancis dan bekerja sebagai konsultan migas selama lima tahun. Di sana ia belajar bahasa Prancis dari nol. Ia kemudian pulang ke Indonesia, bergabung dengan Saipem, dan menangani proyek BP Tangguh hingga 2019. Tahun itu juga ia berangkat lagi, kali ini ke BP Malaysia sebagai Sourcing Lead. Sepulang dari Malaysia, ia bekerja di Genting Energy Group lalu PT Layar Nusantara Gas. Kini ia bersiap pindah ke Qatar.

Menurut Lebda, karier tidak selalu harus lurus mengikuti bidang studi. Ia memperkirakan ada sekitar 300 alumni ITS yang bekerja di berbagai negara di lima benua, dan pekerjaan mereka beragam. Ada lulusan Teknik Perkapalan yang menjadi Atase Pertahanan di KBRI. Ada alumni Teknik Kimia yang menjadi staf khusus di Kementerian Pertanian. Ada pula lulusan Teknik Mesin yang bekerja sebagai drilling engineer, padahal materi pengeboran tidak diajarkan di jurusannya. Bagi lulusan baru yang ingin mencoba pasar kerja internasional, Lebda menyebut beberapa bekal utama: integritas, kepercayaan diri, kemampuan bahasa asing, dan jaringan profesional.

Ia juga menilai perusahaan di Timur Tengah menyukai pekerja Indonesia karena mereka dikenal langsung bekerja dan mencari solusi. Menurutnya, di Qatar dan negara lain, hal itu menjadi pembeda dari pekerja asal India atau Filipina.

Lebda juga menyoroti perbedaan budaya kerja. “Kalau di Indonesia, kita terjadi perbedaan pendapat itu menjadi permusuhan, karena akan dimasukkan dalam hati. Kalau di luar negeri kita urusan kerja, kita menggebrak meja atau apapun itu selesai di situ,” ujarnya.

Dari sisi penghasilan, ia menyebut selisihnya bisa hampir tiga kali lipat dibanding di dalam negeri. Tenaga ahli juga tetap dihargai hingga usia lanjut. Di beberapa negara, usia pensiun mencapai 67 tahun. “Di sana kita tetap bisa berkarier sebagai seorang expert dan tetap dihargai, karena masalah ilmu. Experience ini tidak bisa dibeli,” katanya.

IKA ITS Luar Negeri resmi berdiri sebagai Pengurus Wilayah ke-17 pada 2020. Organisasi ini membawahi chapter di Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, Eropa, Amerika, dan Afrika. Lebda ingin alumni ITS di luar negeri saling membantu dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Ia melihat hasil awalnya sudah muncul. “Sudah ada dua orang alumni fresh graduate baru lulus sudah keterima kerja di Malaysia. Fresh graduate, itu sangat jarang,” katanya.

×