Program Kerja Strategis
Terbit pada
Jumat, 11 September 2026
Prof. Jaka Sunarso, S.T., M.E., Ph.D., C.Eng. adalah akademisi dan peneliti internasional di bidang teknologi energi. Beliau menyelesaikan pendidikan Sarjana di Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada tahun 2004, lalu melanjutkan studi Magister dan Doktoral di University of Queensland, Australia, dengan fokus riset pada baterai, fuel cell, membran, biorefinery, serta pemodelan dan simulasi proses. Perjalanan akademisnya berlanjut ke program postdoktoral pertama di Deakin University, Melbourne, selama lebih dari dua tahun untuk meneliti pengembangan baterai dengan elektrolit ionic liquids. Setelah itu, beliau menempuh postdoktoral kedua di University of Waterloo, Kanada, selama dua tahun untuk mengembangkan proyek baterai litium bersuhu tinggi. Musim dingin yang ekstrem di Kanada serta keinginan untuk berada lebih dekat dengan orang tuanya yang lanjut usia mendorong beliau kembali ke Jakarta.
Sekembalinya ke Indonesia, beliau melamar pekerjaan ke negara tetangga dan resmi bergabung dengan Swinburne University of Technology Kampus Sarawak di Kuching, Malaysia, pada tahun 2016. Rekam jejak publikasinya yang mencapai sekitar 70 artikel ilmiah serta kolaborasi riset internasional mengantarkannya diterima sebagai senior lecturer, lalu dipromosikan menjadi associate professor pada tahun 2018 dan meraih jabatan profesor penuh pada tahun 2022. Di samping mengajar, beliau dipercaya menjabat Direktur Research Centre for Sustainable Technologies di Swinburne University Sarawak, setelah sebelumnya menjadi associate director dan acting director. Selain memimpin pusat riset tersebut, beliau juga aktif sebagai editor di sejumlah jurnal ilmiah internasional.
Dalam memandang ekosistem penelitian, beliau menilai tantangan riset di Indonesia terletak pada budaya yang masih terlalu berfokus pada hasil akhir publikasi ilmiah, dengan dukungan pengembangan laboratorium yang minim. Beliau menekankan bahwa untuk mencapai tahap komersialisasi dan memberi dampak langsung pada industri, sebuah teknologi harus mencapai Technological Readiness Level (TRL) 10 melalui fase startup dan uji coba yang panjang. Meski bertugas di Malaysia, beliau tetap terhubung erat dengan ekosistem riset Indonesia. Beliau rutin mengirimkan sampel penelitian setiap satu atau dua bulan serta memanfaatkan fasilitas canggih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) seperti transmission electron microscope. Sekitar separuh dari 30 publikasi terbarunya berafiliasi dengan Indonesia melalui kolaborasi bersama peneliti senior BRIN yang merupakan rekan seangkatannya di UGM.
Mengenang masa kuliah di Teknik Kimia ITS, beliau mengingat dirinya sebagai mahasiswa yang lebih menyukai ketenangan riset di Ruang Baca Teknik Kimia, saat rekan seangkatannya sibuk mengejar karier di korporasi besar seperti Pertamina. Ada pengalaman yang berkesan baginya ketika para dosen tak segan meminjamkan buku koleksi pribadi maupun buku baru perpustakaan untuk menunjang minat belajarnya. Sebagai refleksi bagi almamaternya, beliau menyarankan agar ITS mengalokasikan sepertiga waktu tenaga pendidik khusus untuk pengajaran. Beliau memahami bahwa keterlibatan dosen dalam proyek industri dan jejaring alumni adalah hal yang lumrah untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga, meski terkadang berdampak pada tertundanya prioritas publikasi ilmiah.
Menatap masa depan, beliau memiliki target besar untuk membangun warisan akademik dalam 15 hingga 20 tahun mendatang dengan mencetak 20 hingga 30 akademisi kelas dunia. Beliau berharap sekurang-kurangnya separuh dari mereka berasal dari talenta terbaik Indonesia. Untuk mewujudkannya, beliau membuka pintu kolaborasi serta memfasilitasi lulusan ITS maupun universitas lain di Indonesia yang ingin melanjutkan studi doktor di bawah bimbingannya. Melalui standar akademis yang tinggi, beliau berharap para doktor lulusannya mampu menjadi agen perubahan yang berintegritas, produktif, serta memberi kontribusi nyata bagi industri dan masyarakat luas.