Irnanda Laksanawan

Terbit pada

Senin, 21 April 2025

Oleh
raynaldi
379

Irnanda Laksanawan: Danantara Lahir dari Rancangan Panjang 25 Tahun

Gagasan membentuk Badan Pengelola Investasi Danantara sudah ada sejak 1998. Hal itu disampaikan Ir. Irnanda Laksanawan, M.Sc. Eng (MBM), Ph.D., mantan Deputi Menteri Negara BUMN yang kini menjabat Chairman Business News Indonesia. Menurut dia, butuh sekitar 25 tahun sampai rancangan itu benar-benar terwujud.

Irnanda sudah berada di Kementerian BUMN sejak kementerian itu dibentuk. Dari dalam, ia mengikuti langsung perjalanan panjang yang berujung pada Danantara.

Irnanda lahir di Surabaya pada 7 Januari 1962. Ia kuliah di Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri ITS. Baru dua bulan menjadi mahasiswa, ia sudah berangkat ke Australia untuk program pertukaran pelajar. Di sana ia belajar beradaptasi dengan bahasa dan budaya baru, pengalaman yang belakangan ia rasakan manfaatnya.

Di kampus, Irnanda terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa ITS periode 1984 sampai 1988. Ia mahasiswa Teknik Mesin pertama yang memegang jabatan itu. Pengalaman memimpin organisasi mahasiswa inilah yang membuatnya ingin menjadi pemimpin.

Ia juga menekuni ekonomi. Pada 1985 ia meraih gelar sarjana muda dari Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, setahun sebelum lulus dari ITS pada 1986. Menurutnya, ilmu rekayasa perlu diimbangi kemampuan manajerial. Ia kemudian mengambil Integrated Management System and Business Administration di University of Birmingham, Inggris, pada 1989 sampai 1990. Gelar Ph.D. bidang Business Management ia peroleh dari University of South Australia pada 2007.

Irnanda memulai karier di BPPT karena tertarik pada visi teknologi B.J. Habibie. Setelah itu ia masuk tim persiapan BPIS, badan yang menaungi 10 industri strategis seperti PTDI, PAL, Pindad, dan Krakatau Steel. Sebagai bagian dari kuasa pemegang saham, ia harus belajar manajemen dari nol.

Ketika Kementerian BUMN dibentuk di bawah Menteri Tanri Abeng, Irnanda ikut bergabung. Banyak BUMN saat itu tidak mengejar laba dan tata kelolanya lemah. Pemerintah lalu menyusun Blueprint Roadmap transformasi BUMN, dengan tujuan akhir sebuah induk holding besar yang kini bernama Danantara.

Targetnya lima sampai sepuluh tahun. Kenyataannya, rencana itu berkali-kali tersendat oleh situasi politik dan ekonomi. Prosesnya baru bergerak lebih cepat pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Irnanda menyebut proses ini accelerated evolution, evolusi yang dipercepat. Perubahan dibuat bertahap supaya peralihan dari cara kerja birokrasi ke standar korporasi global tidak mengguncang. Konsepnya disusun dengan bantuan konsultan internasional seperti BCG, PwC, dan Ernst & Young.

Karier Irnanda di lingkungan BUMN naik bertahap, dari staf khusus menteri, kepala bidang, hingga direktur operasi. Usianya baru 38 tahun saat ia dipercaya menjadi direktur di PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero). Ia kemudian menjadi direktur utama ketika perusahaan galangan kapal itu nyaris bangkrut. Upaya penyelamatan tersebut mengajarinya banyak hal tentang restrukturisasi keuangan dan korporasi.

Pada Desember 2006, Irnanda diangkat menjadi komisaris Pertamina, sekaligus komisaris termuda di perusahaan itu. Tugasnya membenahi Pertamina agar mampu bersaing di tingkat global. Dari 2008 sampai 2012, ia menjabat Ketua Komite Good Corporate Governance Dewan Komisaris Pertamina dan koordinator penyusunan Corporate Planning and Business Policy. Pekerjaan utamanya adalah menyusun standar restrukturisasi untuk Pertamina dan seluruh anak usahanya.

Ia juga pernah menjadi Komisaris Utama PT Pupuk Sriwijaya Palembang, PT Asuransi Jasindo (Persero), PT IGLAS, serta perusahaan patungan Pelindo III dan P&O Australia. Selain itu, ia pernah menjabat Direktur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Pada 24 September 2010, Irnanda dilantik sebagai Deputi Menteri Negara BUMN Bidang Usaha Industri Strategis dan Manufaktur dan menjabat hingga 2014. Ia membawahi BUMN dengan total aset lebih dari Rp500 triliun, mulai dari pertahanan, energi, semen, hingga dok dan perkapalan.

Selama menjabat, ia melihat perusahaan pelat merah jarang berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ia lalu membentuk Forum Information Technology untuk para direksi bidang TI, dan Forum Human Capital untuk para direktur SDM. Tujuannya menyamakan pola pikir dan budaya kerja di grup BUMN. Irnanda mengaku butuh sekitar 15 tahun sampai sistem itu berjalan mapan.

Di luar BUMN, Irnanda mendirikan Koperasi Mabadiku dari nol karena kepeduliannya pada ekonomi umat. Koperasi itu kini terus berkembang.

Saat ini ia memimpin Business News Indonesia, media yang membahas digitalisasi, kecerdasan artifisial, human capital, kepemimpinan, dan keuangan korporasi. Menurutnya, mengelola perusahaan jauh lebih rumit daripada teori di buku teks, dan pengalaman itu yang ingin ia bagikan.

Irnanda meminta mahasiswa berani keluar dari zona nyaman dan membekali diri dengan kemampuan manajerial. Insinyur yang hanya mahir teknis, katanya, akan sulit naik ke posisi yang bisa mengubah kebijakan. Ia juga mengingatkan anak muda agar tidak terjebak mengeluh tanpa solusi. Soal passion, ia menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak diajarkan di kampus dan harus ditemukan lewat perenungan, termasuk lewat shalat tahajud.

Kepada sesama alumni ITS, pesannya jelas: jangan cepat puas setelah sukses di Surabaya atau Jawa Timur. Ia mendorong alumni menyebar ke seluruh Indonesia dan bekerja sama dengan lulusan kampus lain untuk membangun teknologi, supaya Indonesia punya produk unggulan yang diperhitungkan di dunia. Bagi Irnanda, teknologi adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi ke depan.

×