Ir. H. Awang Sasongko, S.T., M.H., IPU, ASEAN Eng.

Terbit pada

Selasa, 22 September 2026

Oleh
afira
168

Awang Sasongko besar di Surabaya, di lingkungan kota yang sehari-hari bersinggungan dengan dunia kerja dan industri. Suasana itu rupanya menempel. Ketika waktunya kuliah, ia memilih Teknik Kelautan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan lulus pada 2002.

Ia tidak menunggu lama untuk masuk lapangan. Gelar sarjana baru di tangan, ia langsung bekerja sebagai welding inspector, orang yang tugasnya memastikan setiap sambungan las layak dan aman. Setahun kemudian, pada 2003, ia mengemas barang dan pindah ke Batam. Di sana ia jadi commercial officer di sebuah galangan kapal. Dari situlah wawasannya melebar. Bukan cuma soal teknis, tapi juga kontrak, negosiasi, dan cara berhadapan dengan klien asing yang punya standar kerja internasional.

Langkah berikutnya membawanya ke PT Dharma Pratama, kontraktor blasting dan painting. Di perusahaan inilah ia mulai serius menekuni pelapisan logam dan perlindungan baja dari korosi. Ia sempat bekerja di sektor fabrikasi bejana tekan, dan ikut terlibat dalam proyek-proyek di Newmont Nusa Tenggara.

Setelah bertahun-tahun jadi pekerja, ia merasa bekalnya cukup. Pada 2012, bersama beberapa rekan, ia mendirikan PT Tosan Aji Mumpuni. Namanya bukan tanpa alasan. Tosan Aji berarti besi berharga, simbol nilai dan kekuatan yang ingin ia bawa lewat perusahaan itu. Bidangnya protective coating, pelapisan baja agar tahan karat, terutama untuk industri maritim serta minyak dan gas. Perusahaan ini punya dua mesin automatic blasting, salah satunya sanggup menangani plat selebar tiga meter, kapasitas yang tergolong langka di Batam.

Lalu datang ujian. Sekitar 2019, krisis industri migas menghantam Batam. Tosan Aji, yang awalnya bertumpu pada struktur lepas pantai, terpaksa berputar arah. Awang mengalihkan fokus ke galangan kapal, khususnya layanan subprimer, yaitu pelapisan sementara pada baja sebelum dirakit menjadi kapal. Keputusan itu terbukti tepat. Permintaannya justru besar, dan perusahaan malah tumbuh di tengah krisis.

Angkanya lumayan bikin bayangan. Saat ini Tosan Aji mampu memproses sekitar 100 sampai 120 keping baja per hari. Dengan berat rata-rata dua ton per keping, itu setara 200 hingga 240 ton sehari, atau enam ribu sampai tujuh ribu ton dalam sebulan.

Dari satu perusahaan, ia melebar. Awang mendirikan PT Energi Graha Sagara, yang bergerak di galvanisasi sistem hot-dip dengan teknologi dari Austria. Perusahaan ini muncul untuk mengisi kekosongan, setelah dua pemain galvanisasi lain di Batam berhenti beroperasi. Sekitar 2021, lahir lagi PT Delta Inti Wangsa, yang menggarap pemeliharaan boiler pada pembangkit listrik tenaga uap, dengan basis di Surabaya dan Medan.

Apa modal utamanya? Menurut Awang, bukan uang. Yang paling menentukan adalah keberanian dan sikap mental. Rasa takut gagal, katanya, sering jadi rem paling besar bagi orang yang ingin memulai usaha sendiri. Ia paham betul soal keterbatasan modal, karena itu ia memilih tumbuh lewat pola kemitraan. Baginya, naik-turun dalam bisnis itu wajar. Yang harus dijaga justru reputasi, etika, dan hubungan baik dengan semua pihak, termasuk pesaing.

Ada satu keputusan yang menarik dari perjalanannya. Menyadari dunia proyek penuh urusan kontrak dan klausul perjanjian, Awang menempuh Magister Hukum di Universitas Internasional Batam. Pengalaman menghadapi sengketa dengan perusahaan asing di Singapura ikut mendorong tekad itu.

“Bukan ingin beralih menjadi praktisi hukum, tapi pendidikan ini sangat membantu lebih kritis dalam menganalisis kontrak dan memitigasi risiko usaha,” ujarnya.

Di luar bisnis, ia memegang amanah sebagai Ketua Ikatan Alumni ITS Kepulauan Riau, komunitas beranggotakan sekitar 800 orang. Fokusnya membuka akses pelatihan kerja. Bersama alumni ITB, Undip, dan Politeknik Negeri Batam, ia menggagas pelatihan berbasis praktik bagi lulusan SMA dan SMK yang belum punya keterampilan industri, dan sebagian dilaksanakan langsung di fasilitas Tosan Aji. Sampai sekarang lebih dari 120 peserta sudah lulus, dengan tingkat penyerapan kerja sekitar 80 persen.

Soal masa depan Batam, ia optimistis. Sektor maritim di sana, katanya, belum surut, hanya bergeser arah menuju logistik dan pariwisata. Ia menilai kota itu masih punya prospek kuat setidaknya sampai 2035. Dan ia sendiri mulai melirik pariwisata, sebagai penyeimbang setelah lama berkutat di dunia proyek.

“Itu salah satu bentuk refreshing bagi saya. Tiga bisnis sudah di dunia proyek, masa bikin bisnis lagi di sektor yang sama, kapan santainya,” katanya sambil berkelakar.

×