Ir. Edi Srimulyanti

Terbit pada

Kamis, 24 September 2026

Oleh
afira
91

Edi Srimulyanti, dari Satu-satunya Mahasiswi di Kelas hingga Kursi Komisaris Utama PLN Nusantara Power

Tahun 1980-an, Edi Srimulyanti masuk Teknik Elektro ITS tanpa bayangan yang jelas soal jurusan itu. Ia cuma tahu satu hal: sejak SMA ia suka fisika. Menurutnya, jurusan elektro pasti berurusan dengan elektron, listrik, dan hal-hal semacam itu. Itu sudah cukup jadi alasan.

Begitu kuliah dimulai, ada yang membuatnya kaget. Angkatannya berisi 150 mahasiswa, dan perempuannya hanya tiga. Angkatan itu dibagi ke dalam tiga kelas, sehingga di setiap kelas hanya ada satu mahasiswi. Salah satunya dia.

Ia lulus pada 1989. Puluhan tahun kemudian, perempuan kelahiran Kediri, 3 Oktober 1966, ini duduk sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PT PLN Nusantara Power, perusahaan pembangkitan listrik terbesar di Indonesia.

Selepas kuliah, Edi langsung bergabung dengan PLN. Bekal dari ITS terasa sejak awal. Ia terbiasa berpikir sistematis saat membaca struktur sistem tenaga listrik, dan metode analisis serta komputasi yang dipelajarinya di kampus membantunya membedah masalah teknis satu per satu.

Tapi pekerjaan pertamanya ternyata tidak hanya soal teknik. Ia ditempatkan di unit PLN paling kecil, di tingkat kabupaten/kota, dan di sana ia sudah harus menyusun laporan keuangan, termasuk laporan laba rugi.

Dari situ ia sadar ilmunya belum lengkap. Ia lalu mengambil S2 Manajemen Keuangan di Universitas Indonesia lewat program yang dibiayai perusahaan, dan lulus pada 2005.

Kariernya kemudian bergerak di jalur distribusi dan layanan pelanggan. Ia pernah menjadi Manajer Area, Manajer Komersial dan Layanan Pelanggan, Vice President Metering, Vice President Change Management, hingga Executive Vice President Change Management Office. Pada 2022 sampai 2025 ia masuk jajaran direksi sebagai Direktur Retail dan Niaga PLN.

Sekarang posisinya ada di sisi pembangkitan. Bagi Edi, transisi energi bukan sekadar menambah panel surya atau kincir angin. Porsi energi terbarukan memang harus naik dan ketergantungan pada pembangkit fosil harus turun. Tapi semua itu perlu berjalan bersamaan dengan modernisasi pembangkit yang sudah ada.

Salah satu kuncinya adalah penyimpanan energi. Tenaga surya dan angin sifatnya naik turun. Tanpa sistem penyimpanan yang kuat, jaringan bisa goyah. Karena itu, penambahan kapasitas PLTS, PLTB, dan PLTP di berbagai daerah perlu disertai kesiapan infrastruktur, pembiayaan yang berkelanjutan, dan kemampuan jaringan untuk menerima pasokan baru.

“Transisi energi harus dibangun berdasarkan kesiapan teknis dan perencanaan sistem yang terukur,” ujarnya.

PLN Nusantara Power sudah punya peta jalan untuk pembangkit rendah emisi dan berefisiensi tinggi. Pembangkit gas disiapkan untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar minyak secara bertahap, karena teknologi siklus gabungan (combined cycle) bisa menekan biaya produksi. Pembangkit lama tidak serta-merta ditinggalkan. Unit-unit itu direvitalisasi dengan peningkatan efisiensi, digitalisasi kontrol, dan sistem pemantauan terintegrasi agar umur operasinya lebih panjang.

Sehebat apa pun rencananya, listrik tetap harus menyala. Edi menegaskan keandalan pembangkit adalah prioritas utama, mulai dari sistem interkoneksi Jawa-Bali, Sumatra, dan Kalimantan sampai sistem terisolasi di wilayah lain.

Caranya lewat inspeksi berkala, perawatan prediktif, dan pengaturan beban operasi. Teknologi digital membantu mendeteksi gangguan lebih dini dan menyusun jadwal perawatan berdasarkan data. Untuk saat ini, pembangkit batu bara dan gas masih menanggung beban dasar, jadi efisiensinya terus diperbaiki.

“Keandalan pembangkit adalah fondasi utama dari sistem tenaga listrik nasional,” katanya.

Teknologi baru juga menuntut orang-orang yang siap memakainya. PLN Nusantara Power bekerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dan mitra industri untuk menyusun pelatihan teknis yang menekankan keselamatan kerja, efisiensi, dan pengelolaan risiko. Kemampuan membaca data dan beradaptasi dengan otomasi kini jadi bekal wajib.

Edi juga terbuka soal keterbatasan. Di daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan PLN, banyak komunitas desa memilih memproduksi listrik sendiri. Hal ini dimungkinkan karena selain PLN, sudah banyak pemegang izin usaha Penyediaan Tenaga Listrik (PTL) di Indonesia. Komunitas cukup mengurus izin PTL, lalu bisa menjual listrik sesuai aturan.

Soal harga, listrik PLN di Jawa dan Bali umumnya lebih murah karena sistemnya sudah terintegrasi dan sumber energinya beragam, dari batu bara, gas, sampai PLTA. Di luar Jawa, biaya produksinya masih lebih tinggi, terutama untuk pembangkit berbahan bakar minyak. PLTS bisa jadi pilihan murah, asalkan tanpa baterai. Begitu listriknya perlu disimpan, biayanya ikut naik.

Ditanya soal perjalanan kariernya, Edi menjawab sederhana: semuanya mengalir. Pegangannya hanya satu, yaitu memberikan yang terbaik di setiap tugas dan menyelesaikannya semaksimal mungkin.

Ia menyebut PLN sebagai perusahaan yang maskulin, penuh teknologi canggih dan didominasi karyawan laki-laki. Di lingkungan seperti itu, ia terus membuktikan kemampuannya sampai masuk jajaran direksi, lalu kini memimpin dewan komisaris salah satu anak usaha terbesarnya.

Posisi itu, katanya, jauh melampaui apa yang ia bayangkan dulu. Dulu, saat ia hanya tahu dirinya suka fisika, dan menjadi satu-satunya perempuan di ruang kelas Teknik Elektro ITS.

×