Program Kerja Strategis
Terbit pada
Rabu, 16 September 2026
Anton Sukoco lahir dan besar di Surabaya. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan lulus pada 2001. Dari kampus inilah ia terbiasa berpikir sistematis dan bekerja berdasarkan data, cara kerja yang kelak dibawanya ke dunia industri dan manajemen.
Kariernya dimulai bahkan sebelum ia resmi lulus. Sekitar satu tahun ia bekerja di sebuah perusahaan manufaktur, lalu bergabung dengan PT Fajar Mas Murni. Di perusahaan penyedia solusi industri itu, ia meniti karier dari level dasar. Butuh lebih dari sepuluh tahun sampai ia dipromosikan menjadi kepala cabang atau regional sales manager. Kenaikan jabatan itu membuatnya sadar bahwa kemampuan teknik saja tidak cukup untuk menjalankan tanggung jawab manajerial. Ia lalu menempuh Magister Manajemen di Universitas Airlangga, lulus pada 2019, dengan fokus manajemen strategik dan pemasaran.
Seiring PT Fajar Mas Murni bertransformasi, sejumlah talenta internal dipanggil untuk mendukung pengembangan bisnis, dan Anton salah satunya. Pada satu periode ia menjalankan tiga peran sekaligus: regional manager, kepala divisi pemasaran, dan deputi direktur. Di waktu yang sama ia juga menjabat komisaris dan Plt Komisaris Utama di Industri Kemasan Semen Gresik (IKSG). Seluruh beban itu ia jalani sambil menempuh studi doktoral di ITS. Kuncinya, katanya, adalah memilah mana pekerjaan yang urgent dan mana yang important, lalu menentukan tugas mana yang dikerjakan sendiri, didelegasikan, ditunda, atau ditinggalkan. Ia menyelesaikan S3 Industrial Management pada 2025. Di luar gelar akademiknya, ia juga mengantongi sertifikasi profesional di bidang Human Capital Management (CHCM) dan Professional Management Analysis (CPMA).
Disertasinya membahas gangguan rantai pasok selama pandemi. Ia mengkaji bagaimana ketidakpastian yang tinggi mengacaukan struktur yang sebelumnya stabil, dari hulu sampai hilir, lalu mengukur dampaknya di tiap bagian rantai pasok. Tujuannya praktis: menyediakan rujukan agar perusahaan bisa mengambil langkah teknis dengan cepat saat menghadapi situasi serupa. Baginya, kajian akademik seperti ini memang seharusnya bisa dipakai untuk menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.
Kini ia menjabat Regional Sales Executive Head di Fajar Mas Murni RSO Surabaya, sekaligus Ketua Ikatan Alumni Teknik Mesin ITS periode 2025–2029. Di posisi terakhir itu, ia mengembangkan Mechanical Career Center, program yang melibatkan alumni di posisi strategis, baik di perusahaan swasta maupun BUMN. Lewat kuliah tamu dan diskusi, program ini memberi gambaran soal kebutuhan dan dinamika dunia kerja kepada mahasiswa dan alumni muda. Ia juga menerapkan skema mentoring yang mempertemukan alumni senior dengan yang lebih muda, supaya mereka bisa memahami sejak dini kompetensi apa yang diminta industri. Selain jalur profesional, ia mendorong wirausaha sebagai alternatif karier.
Dari pengalamannya berbicara dengan banyak pengguna tenaga kerja, Anton menilai lulusan ITS punya ciri yang membedakan mereka dari lulusan kampus lain. Kemampuan teknisnya kurang lebih setara, tapi keuletan, ketahanan menghadapi tekanan, dan kesediaan bekerja tanpa banyak mengeluh menjadi nilai tambah, terutama di tahap awal karier ketika tuntutan adaptasi cukup berat. Ia berharap jejaring alumni yang solid bisa memperkuat posisi ITS di tingkat nasional dan mendorong lebih banyak lulusan mengisi peran kepemimpinan. Pesannya untuk mahasiswa sederhana: banyak-banyak belajar, termasuk dari ilmu kehidupan, sebagai bekal menghadapi dunia kerja.