Ir. Agus Cahyono Adi, M.T.

Terbit pada

Senin, 14 September 2026

Oleh
afira
243

Ir. Agus Cahyono Adi, M.T. adalah birokrat dan praktisi di sektor energi nasional yang memahami rantai energi Indonesia dari hulu sampai hilir. Ia lahir di Blitar pada 9 Februari 1967. Pendidikan Sarjana Statistika diselesaikannya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 1990, dilanjutkan dengan Magister Manajemen Industri di Universitas Indonesia (UI) pada 1998. Cara berpikirnya yang sistematis mulai terbentuk di bangku kuliah, antara lain lewat mata kuliah Analisis Numerik dan Data Struktur yang melatihnya menyelesaikan persoalan secara logis dan terukur.

Kariernya dimulai di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai modeler energi. Peran ini membuatnya mengenal sektor energi mulai dari sumbernya di dalam bumi hingga penggunaannya di rumah tangga. Pada 2006 ia bergabung dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. Sejak itu ia menempati sejumlah posisi, mulai dari Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan, Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi, Kepala Pusat Data dan Informasi, hingga kini menjabat Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi.

Ia menilai minyak dan gas bumi masih menyimpan potensi yang belum tergarap, meski merupakan sumber daya yang tidak terbarukan. Menurutnya, banyak cekungan di Indonesia yang belum dieksplorasi sepenuhnya, dengan recovery factor nasional yang masih di kisaran 60 persen. Cadangan tersebut, katanya, dapat dimanfaatkan dengan dukungan teknologi seperti enhanced oil recovery serta penerapan Data Science untuk menyusun strategi eksplorasi, terutama di wilayah frontier yang potensinya besar.

Sebagai Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, ia bertanggung jawab menjaga keseimbangan air tanah sebagai bagian dari sistem ekologi nasional. Ia mengumpamakan air seperti darah dalam tubuh yang mengalir melalui siklus hidrologi, dan tugasnya adalah memastikan siklus itu tetap berjalan melalui pemetaan serta pengelolaan 421 cekungan air tanah yang dipantau Badan Geologi. Ia juga menyoroti persoalan penurunan muka tanah di pantai utara Jawa, yang menurutnya tidak hanya dipengaruhi kondisi geologi, tetapi juga aktivitas permukiman dan industri.

Bagi Agus Cahyono, kolaborasi adalah kunci karena tidak ada pekerjaan yang bisa diselesaikan sendirian. Ia berpandangan bahwa masukan dari berbagai latar belakang memperkuat hasil kerja, dan menyiapkan analisis tidak cukup hanya berdasarkan hal yang sudah diketahui, tetapi juga perlu mendengarkan kebutuhan pihak lain. Prinsip itu ia rangkum dalam pesannya, “Jadi jangan ingin menjadi Superman, itu tidak mungkin. Yang penting adalah profesional di bidang keilmuan masing-masing.”

×