IEEE BIG 2026: Mahasiswa Teknik Elektro ITS Raih Juara 1 Business Case Competition Tingkat Internasional

Terbit pada

Selasa, 22 September 2026

Maheswara Yogha Putra Al Ardha, mahasiswa S1 Teknik Elektro ITS angkatan 2023, berhasil meraih 1st Place/Champion dalam IEEE BIG 2026 Business Case Competition. Dalam kompetisi ini, Yogha tergabung dalam tim JavaneseSmile bersama Marva Prayata dan Raffi Muhammad. Ketiganya membawa latar belakang dan perspektif yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga feasible secara bisnis dan relevan terhadap permasalahan yang diberikan.

Gambar : Tim JavaneseSmile meraih Juara 1 (Champion) IEEE BIG 2026 Business Case Competition

IEEE BIG 2026 atau IEEE Brilliant Ideas Generator 2026 merupakan rangkaian kompetisi yang diselenggarakan oleh IEEE ITS Student Branch, dengan salah satu cabangnya yaitu Business Case Competition. Business case yang dikerjakan tim JavaneseSmile berfokus pada perusahaan studi kasus bernama EcoBat, yang menghadapi permasalahan dalam pengelolaan end-of-life battery kendaraan listrik. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan tingkat pengembalian baterai, mencegah baterai masuk ke informal market, serta mengembalikan material bernilai seperti lithium, nickel, dan cobalt ke dalam rantai pasok.

Menurut Yogha, salah satu alasan terbesarnya tertarik mengikuti kompetisi ini adalah karena business case-nya berada di persimpangan antara technology, business, sustainability, dan energy transition. Sebagai mahasiswa Teknik Elektro, ia melihat perkembangan electric vehicle tidak hanya dari sisi teknologinya, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat memiliki ekosistem bisnis dan supply chain yang berkelanjutan. Kompetisi ini juga menjadi kesempatan baginya untuk keluar dari pendekatan engineering yang hanya berorientasi teknis, dan mulai melihat masalah dari perspektif konsumen, operasional, finansial, regulasi, hingga keberlanjutan.

Proses tim dimulai dengan memahami terlebih dahulu kondisi EcoBat dan mencari akar permasalahannya, menggunakan beberapa framework seperti SCQA, 5 Whys, Issue Tree, dan PESTLE Analysis. Dari analisis tersebut, tim mengidentifikasi tiga kelompok masalah utama, yaitu consumer behavior, operational inefficiency, dan market leakage. Root cause yang ditemukan adalah adanya ketidaksesuaian antara consumer behavior, incentive structure, dan system accessibility, sehingga EcoBat gagal menangkap aliran end-of-life battery secara efektif.

Berdasarkan root cause tersebut, tim membangun solusi bernama Circular Battery Recovery Ecosystem (CBRE), dengan tiga komponen utama yaitu decentralized collection network melalui Mini Hubs, financial incentives seperti trade-in, serta digital lifecycle tracking system. Solusi tersebut kemudian diuji kelayakannya secara operasional maupun finansial, mulai dari logistics flow, financial projection, KPI, risk mitigation, hingga implementation roadmap selama tiga tahun.

Selama proses persiapan, tantangan terbesar yang dihadapi tim bukan sekadar menemukan ide yang inovatif, melainkan membuat solusi yang holistic dan defensible. Tim juga harus mengubah analisis yang cukup kompleks menjadi presentasi yang ringkas dan menjelaskannya secara efektif dalam bahasa Inggris. Untuk mengatasi hal ini, tim membagi tanggung jawab sesuai kekuatan masing-masing anggota, melakukan cross-check terhadap analisis satu sama lain, serta beberapa kali melakukan presentation rehearsal dan mock Q&A.

Menurut Yogha, salah satu kunci keberhasilan tim adalah structured problem solving dan teamwork. Tim berusaha membuat solusi yang sederhana untuk dipahami, namun tetap kuat secara analisis dan realistis untuk diimplementasikan. Chemistry tim yang terbuka untuk saling mengkritik ide dan tidak terlalu attached pada satu solusi juga menjadi faktor penting dalam pencapaian ini.

Keunggulan utama solusi CBRE yang diajukan tim adalah pendekatannya yang melihat masalah baterai bukan hanya sebagai recycling problem, melainkan sebagai ecosystem problem yang menghubungkan konsumen, EV dealer, Mini Hub, charging station, logistics partner, hingga recovery facility dalam satu ekosistem sirkular. Tim juga menyusun roadmap tiga tahun dengan target battery return rate meningkat dari 25% pada Year 1, 50% pada Year 2, hingga 75% pada Year 3, dengan potensi pemulihan material lithium, nickel, dan cobalt hingga sekitar 95%, serta potensi penurunan COGS sebesar Rp4,4 juta per unit.

Yogha mengaku sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian ini, mengingat banyaknya waktu yang dihabiskan tim untuk berdiskusi, melakukan revisi, hingga mempersiapkan presentasi akhir. Namun baginya, pencapaian terbesar bukan hanya gelar juara, melainkan pembuktian bahwa mahasiswa dengan latar belakang engineering juga dapat mengembangkan kemampuan multidisiplin dalam business strategy, sustainability, financial thinking, dan communication.

×