Wakili RobotEducation, Mahasiswa Teknik Telekomunikasi ITS Raih Juara 2 Robot Transporter Competition Technocorner 2026

Oleh shabrina September 8, 2026 Kategori: Berita Terkini, Fakultas, Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas Dilihat: 107

Berbekal pengalaman robotika yang telah ditekuni sejak duduk di bangku sekolah dasar, seorang mahasiswa Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil mengukir prestasi dengan meraih Juara 2 pada kategori Robot Transporter Competition di ajang Technocorner 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada.

Gambar: Momen penerimaan penghargaan Juara 2 Robot Transporter Competition Technocorner 2026 oleh Keefe Wiryawan Salim

Surabaya, FTEIC ITS – Keefe Wiryawan Salim, mahasiswa Departemen Teknik Elektro, Program Studi Teknik Telekomunikasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) asal Surabaya angkatan 2025, berhasil meraih Juara 2 pada kategori Robot Transporter Competition di ajang Technocorner 2026. Pada kompetisi ini, Keefe tampil secara individu tanpa didampingi anggota tim lainnya.

Technocorner 2026 merupakan perlombaan tingkat nasional yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh Fakultas Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Kompetisi ini berlangsung pada 25–27 Juni 2026 di Gedung Fakultas Teknik UGM. Pada kategori Robot Transporter Competition, terdapat sejumlah aturan umum yang harus dipatuhi peserta, di antaranya robot hanya boleh dioperasikan menggunakan remote controller seperti stick PlayStation atau ponsel, serta setiap tim hanya diperbolehkan menggunakan satu unit robot selama pertandingan berlangsung.

Ketertarikan Keefe mengikuti Robot Transporter Competition Technocorner 2026 didasari oleh keinginannya untuk mendapatkan sertifikat juara guna memenuhi kebutuhan Sistem Kredit Ekstrakurikuler Mahasiswa (SKEM). Selain itu, ketertarikannya pada dunia robotika sudah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar melalui kegiatan ekstrakurikuler robotika. Sejak tahun 2020, Technocorner telah menjadi kompetisi langganan yang secara rutin ia ikuti setiap tahunnya. Perjalanan kompetitifnya ini juga tidak lepas dari peran klub robotik tempatnya bernaung, yaitu RobotEducation, yang turut melatarbelakangi keikutsertaannya di berbagai ajang perlombaan robotika.

Dalam proses persiapannya, Keefe menjelaskan bahwa dirinya lebih banyak berfokus pada latihan serta evaluasi bagian-bagian robot yang perlu diperbaiki agar dapat berjalan dengan baik saat bertanding di arena kompetisi. Adapun untuk proses mendesain, merakit, hingga memprogram robot, sepenuhnya dikerjakan oleh coach serta klub robotik RobotEducation tempatnya bergabung, sementara Keefe sendiri lebih berperan sebagai driver yang mengoperasikan robot saat pertandingan berlangsung. Total waktu persiapan yang dilalui sekitar satu bulan, terhitung mulai dari tahap desain, pemrograman, hingga perakitan robot. Adapun dua minggu terakhir menjelang perlombaan dikhususkan untuk sesi latihan langsung di arena guna mengasah kesiapan robot maupun kemampuannya sebagai driver dalam mengendalikan robot transporter tersebut.

Tantangan terbesar yang dihadapi Keefe selama masa persiapan adalah bentroknya jadwal latihan lomba dengan periode Evaluasi Akhir Semester (EAS) di kampus. Kondisi ini membuatnya cukup kewalahan dalam membagi waktu, terutama dalam memprioritaskan antara persiapan ujian EAS dan latihan untuk perlombaan yang waktunya semakin mendekat. Meski demikian, ia tetap berusaha menyeimbangkan kedua tanggung jawab tersebut agar performanya baik di bidang akademik maupun di arena kompetisi tetap terjaga.

Menurut Keefe, jalannya pertandingan Technocorner 2026 tergolong sebagai penyelenggaraan yang paling tidak konsisten dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang pernah ia ikuti, baik dari sisi keputusan juri atau wasit, kondisi track perlombaan, maupun kubus misi yang digunakan selama pertandingan. Momen yang paling berkesan baginya adalah ketika berhasil melaju hingga babak final, yang menjadi bukti dari hasil latihan dan persiapan yang telah dijalaninya. Sementara itu, momen paling menegangkan justru terjadi pada sesi final itu sendiri, di mana ia mengaku kurang konsisten dalam menempatkan kubus pada misi yang diberikan, sehingga pada akhirnya ia harus mengakui keunggulan tim lawan dari segi kecepatan waktu penyelesaian misi.

Keunggulan robot yang digunakan Keefe terletak pada desainnya yang telah disesuaikan dengan konsep perlombaan, sehingga robot dapat dikendalikan dengan baik selama pertandingan berlangsung. Selain faktor desain robot itu sendiri, Keefe juga menekankan pentingnya peran joki atau driver yang harus mampu mengendalikan robot transporter secara konsisten sekaligus cepat, mengingat kecepatan dan ketepatan menjadi salah satu penentu hasil akhir pertandingan, terutama saat menghadapi babak-babak krusial seperti final.

Keefe mengaku merasa senang dan bangga atas pencapaian yang berhasil diraihnya, yaitu Juara 2, meskipun ia belum berhasil menyabet posisi juara pertama pada kompetisi tersebut. Rasa syukur tersebut turut ia ungkapkan sebagai bentuk apresiasi terhadap proses panjang yang telah dilaluinya, mulai dari latihan rutin hingga upaya membagi waktu antara akademik dan persiapan lomba. Terkait harapannya ke depan untuk dunia robotika maupun kompetisi serupa, Keefe berharap agar konsistensi panitia penyelenggara serta seluruh kebutuhan teknis perlombaan, mulai dari track, kubus misi, hingga keputusan juri, dapat lebih diperhatikan dengan baik agar pelaksanaan kompetisi ke depannya dapat berjalan lebih optimal dan adil bagi seluruh peserta.

×