Tentang
Mengangkat tema besar transformasi sistem kelistrikan yang cerdas dan berkelanjutan, tiga mahasiswa Teknik Elektro ITS berhasil meraih Juara 1 dalam Senior Innovation Challenge, bagian dari rangkaian National Electrical Power System Competition (NESCO) Innovation Challenge 2026, lewat inovasi bertajuk RE-TRANSFORM.

Surabaya, FT-EIC ITS – Katon Suryo Andaru, mahasiswa Teknik Elektro ITS angkatan 2024, bersama dua rekan satu timnya, Moch Yusuf Pambudi dan Raihan Imaduddin Ahmad, yang juga mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2024, berhasil meraih Juara 1 dalam Senior Innovation Challenge, bagian dari rangkaian National Electrical Power System Competition (NESCO) Innovation Challenge 2026 pada 9 Mei 2026.
NESCO Innovation Challenge 2026 merupakan kompetisi ilmiah dan inovasi tingkat nasional yang berfokus pada problem solving di sektor ketenagalistrikan dan sistem energi, diselenggarakan oleh Magatrika di bawah supervisi KMTETI FT UGM. Tema utama yang diangkat adalah “Transforming Green Power Systems for a Smart, Resilient, and Sustainable Electrified Future”, yang mencari gagasan transformatif untuk mewujudkan sistem kelistrikan yang cerdas, tangguh, dan berkelanjutan. Dalam kompetisi ini, tim Katon memilih subtema “Future-Ready Power Infrastructure” yang berfokus pada modernisasi infrastruktur yang adaptif untuk mengakomodasi pertumbuhan pesat kendaraan listrik (EV).
Ide RE-TRANSFORM berangkat dari proyeksi pemerintah untuk mengoperasikan 2 juta unit mobil listrik pada tahun 2030 demi mencapai target Net Zero Emission 2060. Namun, adopsi EV yang masif ini memunculkan fenomena pengisian daya serentak di malam hari yang mengancam keandalan trafo distribusi perumahan. Lonjakan beban tajam ini berisiko memicu overheating, kerusakan sistematis, hingga pemadaman (blackout). Di sisi lain, transisi EV juga melahirkan masalah limbah baterai lithium-ion yang kapasitasnya turun ke rentang 70-80 persen tetapi sebenarnya masih sangat layak difungsikan sebagai penyimpan daya statis.
Proses pencarian ide bermula dari mempelajari referensi karya-karya milik kakak tingkat yang pernah mengikuti kompetisi serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Saat membedah berbagai referensi tersebut, perhatian tim tertuju pada topik kendaraan listrik. Dari penelusuran literatur dan diskusi lanjutan, mereka menemukan adanya potensi ancaman overload pada trafo distribusi akibat pengisian daya kendaraan listrik secara serentak. Dari situlah mulai dirumuskan solusi yang kemudian menjadi cikal bakal gagasan RE-TRANSFORM. Setelah ide utama terbentuk, tim mematangkan gagasan tersebut melalui riset literatur yang lebih mendalam serta melakukan berbagai simulasi menggunakan perangkat lunak MATLAB untuk memvalidasi konsep dan melihat potensi efektivitas solusi yang ditawarkan.
Dalam pengerjaannya, Katon Suryo Andaru bertindak sebagai ketua tim yang bertanggung jawab mengoordinasikan anggota, merumuskan gagasan utama dan integrasi sistem, serta menyusun kerangka dan keseluruhan penulisan esai. Moch Yusuf Pambudi berfokus pada perancangan infrastruktur Second-Life Battery Energy Storage System (SL-BESS), termasuk bagaimana sistem tersebut bekerja dan terintegrasi dengan Smart Controller. Raihan Imaduddin Ahmad berfokus pada analisis kelayakan ekonomi, termasuk perhitungan Capital Expenditure (CAPEX) serta penyusunan tabel dan analisis finansial sebagai dasar untuk melihat potensi implementasi RE-TRANSFORM.
Tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah manajemen waktu akibat padatnya aktivitas masing-masing anggota. Kesibukan menjalani rutinitas praktikum laboratorium dan agenda organisasi membuat waktu luang untuk berkumpul dan berdiskusi secara intensif menjadi sangat terbatas. Situasi ini sempat semakin berat ketika dua anggota tim jatuh sakit, sehingga mengurangi jam efektif persiapan tim. Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim menerapkan prinsip mencicil pekerjaan secara konsisten. Waktu yang terbatas tersebut membuat proses penyelesaian dan pengumpulan karya menjadi sangat mepet dengan batas waktu akhir, namun tim tetap berupaya memaksimalkan setiap waktu yang tersisa untuk menyempurnakan gagasan tersebut hingga akhirnya berhasil meraih gelar juara.
Perjalanan kompetisi dimulai dari proses brainstorming, dilanjutkan dengan perumusan dan pengembangan inovasi, penyusunan karya tulis, hingga tahap pengumpulan. Bagian yang paling menantang berada pada tahap final, khususnya saat sesi tanya jawab dengan dewan juri, di mana tim dituntut untuk benar-benar memahami setiap aspek dari inovasi yang ditawarkan dan mampu memberikan jawaban secara jelas dan meyakinkan.
Inovasi yang diajukan tim ini menawarkan solusi atas ketergantungan pada grid reinforcement, yaitu penggantian trafo kapasitas besar dan jaringan kabel, yang memakan biaya sangat mahal dan memutus pasokan listrik saat instalasi. RE-TRANSFORM memiliki empat keunggulan utama: sistem plug and play yang bisa menunda grid reinforcement 4-6 tahun sehingga menghemat biaya modal (CAPEX) utilitas hingga miliaran rupiah per gardu; memanfaatkan baterai EV bekas yang membuat harga komponen penyimpanan jauh lebih murah; menanggulangi ancaman limbah B3 baterai dengan menurunkan jejak karbon siklus hidup secara signifikan; serta mampu bertindak sebagai peredam (buffer) yang andal dalam menstabilkan fluktuasi arus akibat intermitensi cuaca dari PLTS atap.
Menurut Katon, kunci keberhasilan tim terletak pada beberapa aspek. Dari sisi inovasi, sebuah gagasan harus memiliki urgensi yang jelas, memberikan dampak yang kuat, serta memiliki unsur kebaruan yang dapat dibuktikan, dengan gap analysis yang kuat terhadap solusi atau produk yang sudah ada sehingga terlihat jelas mengapa inovasi tersebut memang dibutuhkan. Dari sisi penulisan, karya harus memiliki struktur dan tata bahasa yang baik serta mudah dipahami, bahkan oleh pembaca yang tidak memiliki latar belakang teknis, dengan penggunaan data, analisis perhitungan seperti CAPEX dan OPEX, kelengkapan fitur, serta proyeksi implementasi yang disusun secara kuat dan logis. Dari sisi presentasi, yang paling penting adalah menyampaikan gagasan secara singkat, padat, dan jelas, dengan hook di awal agar juri tertarik mengikuti dan memahami gagasan sampai selesai. Namun yang paling penting, menurutnya, adalah sesi tanya jawab, karena sesi ini merupakan kesempatan untuk menjelaskan inovasi secara lebih mendalam kepada dewan juri, sehingga tidak cukup hanya menghafalkan materi presentasi, tetapi harus benar-benar memahami inovasi yang dibuat.
Katon dan tim mengaku sangat bersyukur dan senang atas hasil yang diraih. Sejak awal, mereka bahkan tidak memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi untuk dapat menembus babak final, apalagi menjadi juara. Karena itu, ketika akhirnya diumumkan sebagai Juara 1, hal ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi tim, mengingat seluruh proses perlombaan diberikan kelancaran, mulai dari tahap penyusunan karya hingga presentasi dan sesi tanya jawab di final. Bagi tim, pencapaian ini juga menjadi bukti bahwa meskipun dikerjakan di tengah berbagai keterbatasan waktu dan kesibukan, selama tim dapat terus berproses dan memberikan usaha terbaik, hasil yang tidak terduga bisa saja diraih.